KOMUNIKASI RITUAL PADA ADAT NGABALIUNG DI DESA CIPASUNG KECAMATAN LEMAHSUGIH KABUPATEN MAJALENGKA

Aceng Jarkasih

Abstract


Abstract
The purpose of this study is to describe the symbolic meaning found in the traditional Ngabaliung rituals in the school of the village of Cipasung, Lemahsugih district, Majalengka Regency. This study uses a qualitative descriptive method with the question of the search for ritual communication in the ADAT Ngabaliung in the school of the village of Cipasung, Lemahsugih district, Majalengka Regency. To collect data from this study, the researchers used observation and interview techniques. The results of this study are (1) there are conditions for the implementation of traditional Ngabaliung, (a) women who are deprived of menstruation to maintain sainthood during the implementation of the Adat and (b) have not had sex one week before traditional Ngabaliung ceremony. (2) there is a symbolic meaning adat ngabaliung, (a) rice symbolized in the clean white sense as an image of the holy holiness used, (b) or wrapping sheets also called wrapping sheets congkok from the purity of the meaning of the rice still used for wake up and those leaves having a distinctive flavor, (c) verify this link due to traditional Ngabaliung ritual events that make the school inhabitants to meet cipasung to celebrate the harvest, (d) these offerings of incense that burns like a prayer of thanksgiving to the creator that gave everything fortune.
Key words: symbolic meaning, traditional ritual, ngabaliung
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna simbolik yang terdapat dalam ritual adat ngabaliung di Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian komunikasi ritual pada adat ngabaliung di Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka. Untuk mengumpulkan data penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini adalah (1) terdapat syarat untuk pelaksanaan adat ngabaliung, (a) wanita yang bebas dari haid untuk menjaga kesucian saat pelaksanaan adat dan, (b) tidak berhubungan badan dalam jangka 1 minggu sebelum hari pelaksanaan upacara adat ngabaliung. (2) terdapat makna simbolik pada adat ngabaliung, (a) beras yang di simbolkan putih yang berarti bersih sebagai gambaran kesucian padat adat, (b) daun pembungkus atau juga yang di sebut daun congkok untuk membungkus dari kesucian makna beras yang di gunakan agat tetap terjaga dan dari daun tersebutlah yang mempunya aroma khas, (c) kebersamaan ini terjadi karna pristiwa ritual adat ngabaliung lah yang membuat semua masyarakat desa cipasung berkumpul bersama merayakan panen raya, (d) pembakaran menyan ini sebagai persembahan doa dan menjadi ucapan rasa syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan semua rezeki yang di berikan.
Kata Kunci: makna simbolik, ritual adat, ngabaliung

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 JIKA (Jurnal Ilmu Komunikasi Andalan)

View My Stats

 

Penerbit :

Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Majalengka.

Alamat :

Gedung FISIP Universitas Majalengka, Jalan K.H. Abdul Halim No. 103, Majalengka, Jawa Barat, Indonesia.

email : jurnalilkomandalan@gmail.com | https://jurnal.unma.ac.id/index.php/jika/index